Di tengah kesibukannya sebagai pengajar, redaktur ahli majalah wanita, serta pemilik butik Sang Sakina, waktu Ratih Sanggarwati, 41 tahun, tetap diutamakan untuk ketiga gadis ciliknya: Dhianya Nuasnigi Zen (6 tahun),Sanyadwia Ghinasni Zen (4,5 tahun), dan Danyafatima Hasnuagi Zen (2 tahun). Apalagi di bulan puasa ini.
“Harus lebih banyak bersama anak. Di hari-hari biasa saja, saya berusaha tidak pergi sebelum anak tidur siang. Setelah mereka tidur baru saya pergi. Itupun sore hari, saat anak bangun saya sudah ada,” cerita Ratih Sang. “Capek banget jadinya, tapi buat anak kita senang saja,” lanjutnya.
Bulan puasa tahun ini bagi Ratih bisa jadi akan berlangsung istimewa. Ini karena sulungnya, Anya, sudah saatnya latihan puasa. Sebenarnya, aku Ratih, Anya sudah minta ikutan puasa sejak tahun lalu. “Tapi papanya melarang, karena usianya. Puasa kan harus bangun untuk sahur misalnya, nah kami khawatir akan mengganggu ritme tubuh anak,” jelas Ratih.
Ratih bercerita, kalau diturutin, Anya pasti senang sekali berpuasa. “Semua anakkku tuh susah makan. Kalau makan diemut. Kayaknya kalau boleh memilih mereka akan pilih tidak makan haha… Makanya kalau Anya puasa, saya juga khawatir pada ikutan.”
Untuk mengantisipasi itulah, Ratih berencana puasa ini akan meluangkan waktu lebih banyak untuk mereka. Selain itu,, sambil menemani anak-anak itulah, Rratih dapat melihat apakah sopan santun yang diajarkannya meresap pada watak putri-putrinya. Ratih memang termasuk ‘keras’ mengajarkan sopan santun. Misalnya, pada pengasuh mereka harus memanggil Mbak, atau pada supir, pada siapa saja yang lebih tua memanggil mas, bapak atau ibu. “Pengasuhnya juga kita ajarkan memanggil kakak atau mbak pada anak-anak. Agar sejak kecil mereka punya penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain,” tegas Ratih.
Lebih banyak menemani anak-anak, menurut Ratih, juga membuatnya bisa mengontrol apakah Anya melakukan puasa sekuatnya atau memaksa diri seharian. Kata Ratih, ia tak akan menganjurkan apalagi memaksa Anya puasa seharian. Mula-mula mungkin sampai jam 12-an atau kurang dari itu. Kalau tubuhnya sudah bisa menyesuaikan diri bisa tambah sedikit waktunya, terus bertahap saja.
Selain itu, karena momennya pas, ia pun akan lebih memfokuskan kegiatan tiga putrinya pada kegiatan keagamaan seperti sholat lebih baik, dan belajar mengaji. “Alhamdulillah Anya sudah lancar ngaji, sudah ngaji Al-Qur’an lho,” binar Ratih bahagia.
Soal aktivitas ekstra di bulan puasa, Ratih dan Budi Zen, memang akan membatasi pada kegiatan keagamaan saja. Kasihan, kata Ratih, kalau anak sudah terlalu banyak kegiatan. Di hari-hari biasa pun Ratih mengakui, Anya tidak dibolehkan terlalu sibuk dengan kegiatan ekstra. “Anya pernah ikut kursus vokal, tapi karena dia mengeluh capek ya kita hentikan. Ekstranya dia pilih menjahit dan memasak lho, unusual kan, tidak biasa, dan itu dia pilih sendiri,” kata Ratih sembari tersenyum. (Dew)