
Di era 70-an, wajah imutnya banyak menghiasi layar kaca sebagai artis cilik. Kini di usianya ke-41 tahun, Astri Ivo tetap menghiasi layar kaca meski dengan penampilan jauh beda, berjilbab. Istri Dariola Yushar Yahya ini, berusaha menyesuaikan jadwal sekolah dan les ketiga putranya agar bisa selalu bersama.Sejak berketetapan hati mengenakan jilbab 6 tahun lalu, aktivitas keagamaanku makin meningkat. Tidak hanya sebagai artis tetapi sebagai pendakwah (muballighah), di masjid, tempat-tempat pengajian, kantor-kantor bahkan mal-mal.
Untuk urusan dakwah melalui layar kaca, selain sebagai presenter “Keajaiban Rukyah” di Lativi, aku juga terlibat di beberapa sinetron benuansa religius seperti “Kuasa Ilahi”dan”Hidayah,”
Pilih-Pilih Pekerjaan
Bagiku, pekerjaan yang baik bila aku bisa mengamalkan apa yang aku tahu. Karena itu aku hanya mau menerima semua peran yang disodorkan sutradara. Bila peran itu banyak mengandung pesan moral dan akhlak. Aku juga hanya mengambil sinetron lepas yang jadwalnya tidak terlalu mengikat, selain lokasi syutingnya tidak jauh dari Jakarta bahkan kalau bisa di Jakarta saja.
Pilihan itu tidak lain karena ingin menyeimbangkan aktivitas di luar dengan waktu untuk keluarga. Walau kami memiliki kegiatan yang sama sekali berbeda, aku tetap berusaha menyesuaikan jadwal dengan anak-anak, sehingga masih punya waktu antarjemput mereka saat les.
Dengan komitmen ini pula, meski ada jadwal ceramah atau mengisi seminar di luar kota sekalipun, aku tetap berusaha pulang hari itu. Buatku, kebersamaan sangat penting artinya karena tidak hanya menyenangkan, tapi juga sangat berharga sebagai sarana penyampaian dan ungkapan kasih sayang. Hasilnya, keharmonisan keluarga terus terjaga.
Mendidik Anak Ala Rasulullah
Sebagai seorang muslimah sekaligus ibu dan ketiga anak-anak yang sudah beranjak besar-Kevin Arighi (12th), Andrio Faresi (8 th) dan Riedo Defara (7 th)- aku tidak pernah repot memikirkan model pendidikan seperti apa yang harus kuterapkan.
Selama ini aku menerapkan didikan anak ala Rasulullah. Caranya, menekankan kedisiplinan tapi tetap luwes. Untuk menambah pengetahuan agama, aku menempuh pendidikan di Fakultas Pendidikan Muballigh Universitas Al-Azhar, Jakarta.
Alhamdulillah, dengan memberikan waktu cukup untuk bermain, membekali pengetahuan yang hak dan yang bathil serta memberikan kepercaya,an penuh dengan tanggung jawab, membuat anak-anakku tumbuh dengan kepercayaan din yang kuat tanpa kehilangan rasa sopan-santunnya.
Jadi, akhirnya mereka berusaha menuruti dan menghormati kami sebagi orangtuanya atau orang yang lebih-tua karena mereka tahu melawan orang tua merupakan dosa besar. Aku sadar bahwa lingkungan adalah faktor yang sangat bisa mengubah watak atau karakter seseorang, makanya aku ebrusaha membekalinya pendidikan keagamaan. Secara langsung atau tidak, dengan pondasi itu, mereka tidak akan terbawa kepada hal-hal yang tidak diharapkan.
Aku berharap dengan cara ini anak-anakku bisa tumbuh menjadi manusia berguna, cerdas, dan bertakwa. Alhasil, saat kuterapkan kewajiban puasa pada mereka, dengan suka hati mereka menerima. Malah, kalau kuajak mengikuti acara berbuka bersama sambil mengisi ceramah, ketiganya kegirangan.
Tidak pernah sekalipun mereka merengek minta pulang atau apa. Justru senang karena bisa berbuka puasa rame-rame. Satu hal lagi, meski aku tidak bisa memasak, bukan berarti tidak bisa menyenangkan keluargaku. Sedapat mungkin akulah yang menyusun menu, khususnya hidangan favoritnya.
Pegang Teguh Surah Al-Ahzab
Sadar akan tanggung jawab sebagai orangtua, aku mesti jadi panutan anak-anak. Saat aku bertekad untuk mengenakan jilbab enam tahun lalu, aku mulai berusaha menjadi teladan buat keluarga. Proses mengenakan jilbab yang kini sudah menjadi pakaian resmiku, sebenarnya panjang. Berawal dari ikut pengajian ibu-ibu ‘di Menteng daerah tempat tinggalku, 10 tahun lalu. Aku tergugah mendengar ulasan Pak Julius Usman (kini anggota DPR RI) mengenai surah AI-Ahzab ayat 59. Dalam surah itu dijelaskan bahwa menutup aurat merupakan kewajiban bagi kaum muslimah.
Saat itu aku,sedang giatnya main sinetron,sejak itu aku langsung menolak tawaran sinetron yang mengharuskan aku menanggalkan jilbab. Bagikuaku jilbab tidak menjadi penghambat atau penutup rezeki seseorang. Jadi, sebaiknya sebelum berkomitmen memakai jilbab, alangkah baiknya kalau punya persiapan lahir dan batin. Ini penting, sebab banyak yang kembali membuka jilbab karena merasa kariernya terhambat.
Meski menutup seluruh aurat, bukan berarti menjadi penghalang buatku mempercantik diri Iho. Kecantikan, kehalusan, dan kesehatan kulit adalah berkah yang diberikan Allah dan patut kita jaga. Lagipula menjaga kecantikanmerupakan salah satu ibadah, yakni untuk menyenangkan suami.