Banyak orang tua yang merasa bayinya “masuk angin” setelah diajak berpergian, lantaran si bayi rewel terus. Padahal, seperti dituturkan DR. Sri Rezeki, penyebab kerewelan tersebut ialah perubahan hawa, perubahan lingkungan dan kelelahan. “Bisa dibayangkan kalau bayi dibawa dari Jakarta ke Bandung. Dia digendong dalam pelukan terus. Itu, kan, enggak rileks. Kita saja kalau duduk diam terus jadi enggak rileks. Nah, bayi juga begitu.”
Belum lagi jika di kendaraan umum ada yang merokok atau mungkin sakit flu, sehingga lingkungan yang dihirup si bayi juga tak sehat. Itulah mengapa Sri menganjurkan agar orang tua sebaiknya tak membawa pergi bayi, terutama bayi yang masih terlalu kecil atau berusia di bawah 3 bulan. Karena terangnya, “Bayi usia tersebut masih belum memiliki daya tahan sebaik bayi yang berusia di atasnya, sehingga lebih gampang ‘masuk angin’.”
Jikapun orang tua tetap ingin membawa pergi si bayi, anjur Sri, janganlah si bayi dipangku selamanya, “tapi juga ditidurkan.” Untuk itu, sediakan space khusus di kendaraan agar si bayi bisa tidur. “Tapi harus dijaga, ya, jangan sampai si bayi terpental, karena dia, kan, tidak menggunakan car seat.” Car seat adalah alat yang bisa membantu bayi duduk/berbaring dengan nyaman dalam mobil selama perjalanan.
Sri juga menganjurkan agar orang tua sebaiknya memilih bepergian dengan menggunakan kereta api daripada bus, bila tak ada kendaraan pribadi. Sebab, kereta api goncangannya tak banyak dan space-nya pun lebih longgar ketimbang bus. “Tapi kalau memang harus naik bus, sebaiknya bayi dikasih vitamin agar daya tahannya lebih baik,” anjur Sri lagi.
Selain itu, tambah Sri, orang tua juga perlu melakukan tindakan preventif terhadap bayi dari orang-orang di sekelilingnya. “Biasanya kalau bayi dibawa pergi, seringkali orang banyak yang mencubiti dan menciuminya karena gemas. Sebaiknya hal itu enggak usah terjadi, deh.” Jadi kalau ada orang dekat-dekat dengan si bayi, katakan saja secara sopan, “Bayi saya agak rentan, jadi jangan dicium dulu.”